fbq('track', 'ViewContent');

Utang Produktif Utang Konsumtif

“Mereka membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan. Dengan uang yang tidak mereka punya. Untuk membuat terkesan orang-orang yang tidak mereka suka”. – Fight Club

Agaknya kutipan film ini mampu menjawab mengapa banyak sekali orang yang rela berutang hanya demi membeli “mainan” yang sebenarnya belum layak mereka miliki.

* Berutang untuk jalan-jalan ke luar negeri karena teman dan tetangga banyak yang melakukannya. Padahal dana yang dimiliki hanya cukup untuk jalan-jalan di dalam negeri. Bahkan hanya untuk makan sehari-hari.

* Berutang untuk memiliki mobil kelas X, padahal penghasilan baru pantas memiliki mobil di bawah kelas X. Atau bahkan belum pantas sama sekali.

Serta banyak contoh lainnya. Inilah sebabnya banyak sekali Kelas Menengah Palsu di Indonesia. Yaitu orang yang penghasilannya di bawah kelas menengah “asli”, namun pengeluarannya menyamai mereka.

Saat kita terus-menerus membeli sesuatu yang kita INGINKAN, kita tidak akan punya cukup uang untuk membeli sesuatu benar-benar kita BUTUHKAN. Keinginan versus kebutuhan. Setidaknya ini berlaku untuk kelas menengah, miskin dan kelas menengah palsu.

Saya sendiri tidak anti utang. Bagi saya, yang menjadi masalah adalah apa yang Anda lakukan dengan uang utang atau pinjaman tersebut. Digunakan untuk memperbesar modal usaha agar memperbesar potensi profit. Atau untuk membeli sesuatu yang belum pantas dimiliki. Utang produktif atau konsumtif.

View All

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *