fbq('track', 'ViewContent');

Sunk-Cost Fallacy

Seorang teman tengah memperjuangkan hubungan percintaan yang bermasalah. Dan telah ia lakukan bertahun-tahun lamanya. Masalahnya selalu sama, yaitu kekasihnya selingkuh. Manakala itu terjadi, kekasihnya selalu meminta maaf dengan nada menyesal, disertai permohonan agar hubungan terus berjalan.

“Aku sudah mengeluarkan banyak waktu, uang serta tenaga dalam hubungan ini. Kalau aku akhiri sekarang, semua pengorbanan yang aku lakukan menjadi sia-sia”.

Contoh klasik dari sesat pikir biaya yang sudah dikeluarkan. Atau sunk-cost fallacy.

 

Di tempat yang berbeda, Rangga dan Cinta sudah berada di teater bioskop 1 jam lamanya ketika Rangga berdiri hendak keluar. “Filmya jelek”, kata Rangga datar.

Cinta yang merasa sudah mengeluarkan uang 100 ribu untuk tiket bioskop menahan tangan Rangga. Memintanya agar duduk kembali. “Kita sudah rugi uang 100 ribu.”

Sesat pikir yang sama pada situasi yang berbeda.

“Cintaaa, kita harus rasional. Mau kita lanjut nonton atau nggak, kita udah keluar 100 ribu”, ujar Rangga tegas. Sembari berjalan menuju pintu, meninggalkan Cinta yang tetap duduk di situ.

“Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu jahat,” Cinta membatin.

 

Di tempat yang kembali berbeda, seorang investor pemula tengah gelisah. Apa pasal? Saham perusahaan yang ia miliki beberapa hari ini terus mengalami penurunan. Ia ragu, jika harus menjual saham itu, berarti ia rugi uang. Ditambah pula rugi waktu karena telah lama menunggu. Ia pun akhirnya tidak menjual saham tersebut sampai akhirnya saham tersebut hampir tak bernilai.

Sunk-cost fallacy, lagi dan lagi.

So, pernahkah Anda enggan menarik diri dari suatu keadaan tak menguntungkan karena merasa telah menginvestasikan banyak energi ke dalam hal tersebut? Mungkin jika, mungkin Anda tengah sesat pikir biaya yang sudah dikeluarkan. Sunk-cost fallacy.

View All

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *